Telp : 081220888472|[email protected]

informasi

Geliat Pasar Produk Ayam Olahan

Seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia dan meningkatnya kesejahteraan serta tingkat pendidikan masyarakat, maka telah juga mendorong pertumbuhan RPA dan industri pengolahan daging unggas khususnya di Pulau Jawa.
Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, industri perunggasan di Indonesia tumbuh cukup pesat. Ir. Syukur Iwantoro, MS, MBA, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian RI mengungkapkan, secara nasional pada tahun 2012 produksi daging unggas sebesar 1.667.000 ton terdiri dari daging ayam lokal sebesar 267.000 ton atau 16% dan daging ayam ras sebasar 1,4 juta ton atau 84%. Kontribusi produksi daging unggas terhadap total produksi daging nasional mencapai 62,56%. Sedangkan untuk produksi telur unggas pada tahun 2011 sebesar 1.456.260 ton dan terus mengalami peningkatan pada tahun 2012 yaitu sebesar 1.628.740 ton dan pada tahun 2013 yaitu sebesar1.718.917 ton.

Namun pertumbuhan industri perunggasan di sektor hulu yang begitu pesat ini, belum diikuti dengan pertumbuhan yang seimbang di struktur hilir (rumah potong unggas/RPA dan industri pengolahan daging unggas maupun pengolahan telur). Kondisi ini telah menyebabkan jumlah produksi unggas hidup dan telur melebihi permintaan/serapan RPA dan industri pengolahan daging unggas maupun telur, sehingga memicu terjadinya over supply. Hal ini kemudian berdampak pada rendahnya harga jual unggas maupun telur, bahkan seringkali berada di bawah biaya produksi (HPP).

“Selain itu, kebiasaan masyarakat Indonesia yang lebih menginginkan daging unggas dalam bentuk hangat (hot carcass) telah mendorong munculnya tempat-tempat pemotongan ayam dengan kondisi “alakadarnya”, sementara RPA yang telah dilengkapi dengan fasilitas rantai dingin dan mampu menghasilkan daging unggas dingin (chilled chicken) maupun beku (frozen chicken) tidak dapat bersaing dan berkembang secara maksimal,” ungkap Syukur. Hal yang sama terjadi pula dengan konsumsi telur, masyarakat Indonesia masih lebih terbiasa mengkonsumsi telur dalam bentuk segar bukan dalam bentuk olahan (frozen egg).

Namun demikian, seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia dan […]

Saatnya Perunggasan Introspeksi

 

BRF SA (BRF), perusahaan makanan terbesar ke tujuh dunia yang berkedudukan di Santa Catarina Brazil menandatangani MoU (Memorandum of Understanding) atau nota kesepahaman dengan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (Indofood). MoU tertanggal 19 Desember 2014 itu berisi kesepakatan rencana pendirian perusahaan patungan (Joint Venture) yang akan menjajaki kegiatan usaha produk unggas dan pengolahan makanan di Indonesia.

 

Sebagaimana dilansir dari rilis BRF yang dikeluarkan di Sao Paulo Brazil dan tertera Chief Financial and Investor Relations Officer BRF SA, Augusto Riberio Junior dan surat Indofood bernomor 080/ISM/CS/XII/14 yang diteken Direktur &Corporate Secretary PT Indofood Sukses Makmur Tbk, rencana kerjasama itu ditujukan kepada Otoritas Jasa Keuangan, PT Bursa Efek Indonesia, dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia. Dari informasi yang dikeluarkan pada tanggal yang sama, disebutkan investasi tersebut senilai US$ 200 juta, dalam jangka waktu 3 tahun, dan masing-masing perusahaan memegang 50 % kepemilikan saham bersama-sama.

 

Tak sedikit yang mencurigai kerjasama ini bukan sekadar transfer teknologi dan investasi modal semata. Kekhawatiran pun menyeruak, langkah ini sebagai bagian dari upaya ayam Brazil masuk ke pasar Indonesia, yang sekian lama tak kunjung berhasil menggedor pintu pasar unggas tanah air. Pasar raksasa Indonesia demikian menggiurkan sehingga menjadi magnet bagi produsen produk-produk unggas dari negara luar untuk bisa memasukkan produknya ke Indonesia.

 

Menyikapi ini, Ketua Apayo (Asosiasi Peternak Ayam Yogyakarta) Hari Wibowo berpendapat, meskipun perjanjian kerjasamanya antara swasta dengan swasta tetapi ia menduga kerjasama itu mendapat restu dari pemerintah. “Dengan adanya kerjasama BRF dan Indofood kita (perunggasan, red) harus introspeksi,” tandasnya kepada TROBOS Livestock.

 

Brazil begitu ngotot dan berani bertaruh mengekspor ayamnya, sampai menggunakan semua cara untuk masuk, menurut Hari pasti karena sudah tahu kelemahan perunggasan Indonesia dan merasa lebih kuat dalam persaingan. “Mudahnya, mereka tahu biaya produksi kita untuk menghasilkan satu kilogram daging ayam. Dan […]