trobut april 2, 2

 

BRF SA (BRF), perusahaan makanan terbesar ke tujuh dunia yang berkedudukan di Santa Catarina Brazil menandatangani MoU (Memorandum of Understanding) atau nota kesepahaman dengan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (Indofood). MoU tertanggal 19 Desember 2014 itu berisi kesepakatan rencana pendirian perusahaan patungan (Joint Venture) yang akan menjajaki kegiatan usaha produk unggas dan pengolahan makanan di Indonesia.

 

Sebagaimana dilansir dari rilis BRF yang dikeluarkan di Sao Paulo Brazil dan tertera Chief Financial and Investor Relations Officer BRF SA, Augusto Riberio Junior dan surat Indofood bernomor 080/ISM/CS/XII/14 yang diteken Direktur &Corporate Secretary PT Indofood Sukses Makmur Tbk, rencana kerjasama itu ditujukan kepada Otoritas Jasa Keuangan, PT Bursa Efek Indonesia, dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia. Dari informasi yang dikeluarkan pada tanggal yang sama, disebutkan investasi tersebut senilai US$ 200 juta, dalam jangka waktu 3 tahun, dan masing-masing perusahaan memegang 50 % kepemilikan saham bersama-sama.

 

Tak sedikit yang mencurigai kerjasama ini bukan sekadar transfer teknologi dan investasi modal semata. Kekhawatiran pun menyeruak, langkah ini sebagai bagian dari upaya ayam Brazil masuk ke pasar Indonesia, yang sekian lama tak kunjung berhasil menggedor pintu pasar unggas tanah air. Pasar raksasa Indonesia demikian menggiurkan sehingga menjadi magnet bagi produsen produk-produk unggas dari negara luar untuk bisa memasukkan produknya ke Indonesia.

 

Menyikapi ini, Ketua Apayo (Asosiasi Peternak Ayam Yogyakarta) Hari Wibowo berpendapat, meskipun perjanjian kerjasamanya antara swasta dengan swasta tetapi ia menduga kerjasama itu mendapat restu dari pemerintah. “Dengan adanya kerjasama BRF dan Indofood kita (perunggasan, red) harus introspeksi,” tandasnya kepada TROBOS Livestock.

 

Brazil begitu ngotot dan berani bertaruh mengekspor ayamnya, sampai menggunakan semua cara untuk masuk, menurut Hari pasti karena sudah tahu kelemahan perunggasan Indonesia dan merasa lebih kuat dalam persaingan. “Mudahnya, mereka tahu biaya produksi kita untuk menghasilkan satu kilogram daging ayam. Dan mereka bisa memproduksi ayam dengan BEP di bawah kita. Itu yang membuat Brazil bersikeras masuk, padahal mereka juga menanggung biaya pengapalan yang tidak sedikit,” kata Hari.

 

Dongkrak Daya Saing

 

Banyak yang berpandangan, kerjasama Indofood dan BRF ini sekalilagi menjadi peringatan bagi pelaku perunggasan nasional soal mendongkrak daya saing dan efisiensi. Sekretaris Jenderal GPMT (Asosiasi Produsen Pakan Indonesia), Desianto B Utomo mengatakan, ini harus menjadi titik balik dan menyadarkan pelaku dalam negeri meningkatkan daya saing. “Perunggasan kita harus mampu head to head dengan produk-produk perunggasan dari Brazil atau Amerika Serikat,” tegasnya.

 

Desianto ini mengatakan, titik balik ini harus diikuti dengan reformasi dan transformasi struktur perunggasan Indonesia yang tidak lagi berbicara skala kecil, usaha sampingan, dan sebagainya. “Perunggasan kita harus benar-benar sifatnya industrial sebagaimana dilakukan Brazil dan Thailand yang memproduksi massal ayam secara masif (massif mass production) untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing,” urainya.

 

Ketua Gappi (Gabungan Perusahaan Perunggasan Indonesia), Anton J Supit menimpali, tanpa ada persoalan kerjasama Indofood dan BRF, perunggasan nasional harus efisien. Menurut Anton, perunggasan akan kuat kalau bahan baku pakan produksi local cukup tersedia. Ia menunjuk 2 komponen besar dalam pakan adalah jagung 50 % dan bungkil kedelai sebesar 25 %. “Kita tidak bisa banyak bicara dari bungkil kedelai karena di Indonesia tidak ada pabrik minyak kedelai. Tapi semestinya jagung bisa dipasok dari lokal. Ini tekad kita membantu habis-habisan program pemerintah untuk pengembangan jagung supaya bisa surplus,” tandas Ketua Dewan Jagung Nasional ini.

 

Desianto pun menegaskan, pabrikan pakan lebih suka jagung lokal karena lebih aman, lebih berkualitas, pigmen lebih tinggi dan lebih segar dibandingkan jagung impor. Pakan untuk ayam bibit pun dipilih jagung lokal. “Peran pemerintah sangat besar, kalau produksi jagung nasional meningkat, impor bisa ditekan,” ujarnya.

Sumber : http://trobos.com/detail_berita.php?sid=5793&sir=7